Abah Seolah Penguasa, “Umi Yang Berkuasa”

Judul diatas itu adalah judul sebuah buku yg saya tulis beberapa tahun lalu dan masih relevan sampai hari ini.

Setelah Anies dan Sandi dinyatakan menang dalam pilkada, maka undangan sukuran datang silih berganti diberbagai tempat dari gedung mewah sampai di gang2 sempit.

Sebagian mengundang melalui saya dan saya menjawab pendek saja “Insya Allah saya sampaikan tapi soal Anies bisa hadir atau tidak saya tak punya otoritas untuk itu.”

Tak terlecuali para keponakan perempuan yang meminta agar Anies dihadirkan dirumah saya yg katanya ingin sukuran tapi sebenarnya ingin foto bareng. Saya tak pernah mengiyakan dan selalu mengatakan Anies sibuk dan jadwalnya padat. Saya sangat faham kesibukan yg dialaminya membuat saya tau diri utk tidak membuatnya bertambah repot.

Namun mereka (keponakan perempuan) itu tak pernah kehilangan akal, gagal “melobby” saya maka mereka memainkan kartu AS nya. Dalam sebuah pertemuan keluarga mereka merayu penguasa rumah yang cuma satu2nya perempuan dirumah saya (Istri) meminta agar keinginannya itu dituruti.

Pagi sebelum jalan kekantor setelah semuanya rapih satu kalimat terucap : “Anak – anak itu kasihan mereka mau ketemu Anies.” Saya tak menjawab dan hanya senyum saja. Lalu malam menjelang tidur diingatkan lagi : Anies udah ditelp?

Satu hari, dua hari dan sebelum kuping berdengung, sy mengirim WA ke Anies bercerita sedikit ttg situasi lalu diakhir kalimat saya katakan : Berdebat di Facebok saya kuat mau sampai bertahun – tahunpun saya kuat, perang di Twitter saya sanggup mau sekeras apapun ayukkkk aja. kampanye dimana saja di gang becek sampai di pinggiran kali yang bau pun jadi. Tapi kalau udah yang satu ini ana ga sanggup.

Anies menjawab dengan tertawa ngakak sambil mengatakan “Siapp segera kita jadwalkan.”

Sore tadi Anies pun datang kerumah bersilaturahmi dengan seluruh keluarga, juga ibu – ibu pengajian SEHATI, beberapa pengurus masjid didekat rumah dan tentu saja para perempuan yang telah sukses berkoalisi dgn Istri saya untuk menghadirkan Cagub yang membuat jantung mereka berdebar – debar menjelang hari pemilihan.

Kita kaum lelaki kadang hanya seolah – olah berkuasa tapi sesungguhnya perempuan lebih pandai dalam memanfaatkan kekuasaan itu dalam cara yg paling halus sekalipun.

(Geiz Chalifah)

Comments
Loading...
More in Opini
Rakernas Partai Demokrat
Rakernas Demokrat, Sebuah Rencana Kerja Membangun Harapan

Selamat datang kader Demokrat di kegiatan politik organisasi yang kita sebut Rakernas. Rapat Kerja Nasional merumuskan kerja-kerja politik partai Demokrat...

Reformasi Mei 1998
Ahok, Mei dan Reformasi

19 tahun silam tepat di bulan Mei bangsa ini mengalami peristiwa besar dalam perjalanannya. Mei menjadi bulan bersejarah hadirnya demokrasi...

Close