Indonesia Butuh Rocky Gerung

Rocky Gerung (RG) sedang viral di lini masa media sosial, jadi buah bibir di kalangan pengguna media sosial dan mereka yang aktif menggunakan internet. Betapa tidak, RG, dalam acara Indonesia Lawyer Club besutan Karny Ilyas, yang disiarkan oleh salah satu televisi swasta, menyebut kitab suci sebagai fiksi.

Pernyataan itu segera viral dan menimbulkan kontroversi di kalangan kaum beriman. Tak hanya kaum beriman, omongan RG itu ditentang oleh politisi yang terlibat dalam acara yang sama karena merasa kitab suci agamanya bukan karangan fiksi dan karenanya tersinggung dengan pernyataan tersebut. Namun, tidak sedikit yang sepakat dengan pernyataan RG bahwa kitab suci adalah fiksi.

Kata fiksi, menurut RG bukanlah sebuah kata yang berkonotasi negatif, buruk, dan terkutuk. Fiksi, menurutnya, merupakan energi untuk meningkatkan daya imajinatif. Dalam terang itu, kitab suci RG anggap sebagai energi untuk melihat ramalan-ramalan yang termuat di dalamnya secara kreatif untuk mengarahkan kaum beriman kepada yang baik sembari berharap akan hal-hal yang bersifat eskatologis.

RG melihat kata fiksi menjadi negatif, buruk, dan terkutuk justru karena dipolitisir oleh mereka yang punya kepentingan politis. Terutama sejak pidato Prabowo Subianto yang meramalkan Indonesia bubar pada 2030 berdasarkan analisis ahli inteligen USA dalam novel Ghost Fleet.

Banyak yang menganggap pidato Prabowo tersebut tak berdasar karena berangkat dari karya fiksi. Sejak itu kata fiksi menjadi kata tercela. RG mencoba menempatkan kembali kata fiksi itu ke dalam maknanya yang pantas setelah dikutuk oleh orang-orang yang gagal paham itu. Sialnya, bukannya tercerahkan, RG malah dihujat sebagai penista agama oleh orang-orang yang selama ini menjadi sasaran empuk kritikan RG.
Inilah Indonesia. Omongan ilmiah tak hanya dicemooh tapi dipolisikan. Ketika kritik tak dapat dibantah dengan argumen masuk akal, maka jalan terakhir adalah mempidanakan sang pengeritik. Aneh memang, tapi begitulah kita, begitulah kondisi kita, kondisi yang mempertontonkan politik sebagai ruang untuk membully dan mengolok-olok.

Suka tak suka, bangsa Indonesia membutuhkan pendidikan politik yang kritis, jujur, dan cerdas. Sudah terlalu lama politik kita kehilangan pikiran. Orde Baru menenggelamkan politik gagasan ke dalam dasar jurang. Politik hanya menjadi milik penguasa, hanya boleh diucapkan oleh penguasa. Kebenaran adalah milik penguasa. Ketika masyarakat berusaha untuk memperbincangkan politik secara cerdas dan kritis, itu dianggap subversif.

Warisan Orde Baru itu mewabah hingga era demokratis ini. Politik adalah bahasa kekuasaan, milik penguasa dan elit, dan hanya boleh diucapkan oleh mereka. Di luar itu, adalah nista, dusta, hoaks, antipancasila, antikebhinekaan, bahkan antiindonesia.

Tampilnya RG ke permukaan seperti angin segar bagi masyarakat awam yang merindukan politik diungkapkan dengan cerdas, jujur, dan kritis tanpa takut diculik, dihilangkan, dan dibunuh. RG tampil dengan gayanya yang khas: pemilihan diksi yang renyah di telinga, kritik-kritik yang bernas dan menohok lawan bicaranya dan terutama posisinya yang selalu berseberangan dengan penguasa.

Masyarakat Indonesia butuh lebih banyak orang-orang yang berani mengungkapkan pendapatnya secara bebas seperti RG. Masyarakat kita butuh sosok seperti RG untuk membicarakan politik dengan jernih dan tajam karena selama ini mereka muak dengan omong kosong yang terucap dari para politisi “asal aja”: asal ngecap, asal bacot, asal duduk di Senayan, dan sebagainya.

Kalaupun RG harus dipidana dan dipenjarakan, tak masalah. Dia sudah berhasil memberikan pendidikan politik yang sehat dan demokratis kepada masyarakat. Kritik yang dibungkam dalam hanya akan menghasilkan empati yang lebih besar kepada sang pengeritik dan di lain pihak menciptakan rasa muak yang sungguh bagi pemerintah yang cenderung antikritik.

*Kader Demokrat Yeriko Fernando

 

Comments
Loading...
More in Nasional, Opini
Refleksi Akhir Tahun 2017

Di dalam perkembangan Komisi VII DPR RI selama tahun 2017 isu yang mengemuka dan berkembang terkait di sektor migas dan...

Jokowi Resmikan 17 Lembaga Penyalur BBM Satu Harga di Pontianak

Pontianak – Presiden Joko Widodo meresmikan pembangunan 17 titik lokasi penyaluran pada program Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga di...

Close