BFI Finance Catat Laba Bersih Rp 337 Miliar

Perusahaan juga mampu menjaga Rasio Non-Performing Financing (NPF) di angka 1,33%.

Tangerang Selatan – Di tengah lesunya pertumbuhan ekonomi, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) berhasil menjaga performa dan stabilitas perusahaan dengan mencatat kenaikan piutang pembiayaan yang dikelolanya sebesar Rp 17,905 triliun atau 6,1% lebih tinggi dari periode yang sama di tahun 2018 sebesar Rp 16,870 triliun.

Dari jumlah pembiayaan tersebut, sebesar Rp 3,35 triliun adalah jumlah pembiayaan baru dengan komposisi pembiayaan sebesar 67,5% berasal dari pembiayaan kendaraan roda empat, 17,7% pembiayaan kendaraan roda dua. Dan, 13,5% dari alat berat serta machinery, sementara sisanya adalah pembiayaan properti (property-backed financing) dan syariah.

Pembiayaan baru ini turut mengerek kenaikan nilai aset perusahaan sebesar 3,5% menjadi Rp 18,464 triliun year on year (yoy), dengan laba bersih sebesar Rp 337 miliar.

“Di tengah kondisi yang cukup menantang bagi industri pembiayaan dan melemahnya ekonomi makro yang cukup berimbas pada peningkatan kehati-hatian berbisnis, kami tetap mampu mencatatkan kinerja keuangan yang sehat selama kuartal I tahun ini,” ujar Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan BFI Finance, Sudjono, Senin (29/4).

Dalam tiga bulan pertama tahun 2019 ini, perusahaan juga mampu menjaga Rasio Non-Performing Financing (NPF) di angka 1,33%. Angka ini lebih rendah dari rata-rata industri yang mencapai 2,71%. Sementara itu, NPF coverage, yaitu rasio kecukupan cadangan piutang yang diragukan dibandingkan kredit bermasalah (NPF) terjaga di angka sebesar 1,6x.

“Sepanjang tahun 2019, BFI Finance menargetkan pertumbuhan bisnis yang cukup moderat. Hal ini antara lain terjadi karena kami sedang melakukan peningkatan infrastruktur dan teknologi dalam mendukung proses kerja yang lebih efisien, untuk mendorong pertumbuhan bisnis di masa mendatang di mana kompetisi diperkirakan akan lebih menantang karena tantangan tidak hanya berasal dari perusahaan pembiayaan tradisional melainkan juga dari perusahaan pembiayaan berbasis teknologi,” Sudjono menjelaskan.

Diluar kinerja yang cukup baik, perusahaan berhasil mendapatkan kepercayaan yang kuat dengan adanya pendanaan baru, baik dari perbankan maupun pasar modal. Diluar fasilitas bilateral dengan bank-bank domestik, perusahaan sukses menerbitkan Obligasi Berkelanjutan IV BFI Finance Tahap II Tahun 2019 dengan total nilai sebesar Rp1 triliun. Dan, melakukan road show dalam rangka penerbitan pinjaman sindikasi dalam mata uang USD yang dipimpin oleh empat bank terkemuka yaitu, Bank ANZ, Bank MUFG, Bank Standard Chartered dan Bank SMBC.

Dari hasil road show tersebut, diperoleh total komitmen diatas USD 200 juta. “Penerbitan Obligasi dan pinjaman sindikasi USD menunjukkan kemampuan pendanaan perusahaan yang sangat baik. Pinjaman sindikasi ditutup sebesar USD 200 juta, dan akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung kegiatan pembiayaan perusahaan,” kata Sudjono.

Comments
Loading...
More in Ekonomi, Industri
Michelin Pilot Street 2, Ban Diproduksi di Dalam Negeri

Jakarta – Michelin Indonesia (Michelin), secara resmi memperkenalkan MICHELIN Pilot Street 2, ban komuter sport terbaru yang diproduksi di Indonesia untuk pasar...

Kuartal I/2019, Penyaluran Kredit BTN Tumbuh 19,57%

Close