Inklusivitas Kunci Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Hadirnya berbagai startup digital di Indonesia tentunya diharapkan dapat meningkatkan dan mendorong pemanfaatan internet untuk pertumbuhan ekonomi digital yang berkualitas.

Jakarta – Perkembangan teknologi digital di dunia dalam mewujudkan Revolusi Industri 4.0 ikut mendorong Indonesia untuk meningkatkan ekonomi digital yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat atau inklusif.

Hal ini diungkapkan dalam bincang media yang diselenggarakan oleh The SMERU Research Institute (SMERU) bertajuk “Pertumbuhan Ekonomi Digital yang Berkualitas” yang diadakan di Jakarta, Kamis (15/8). Direktur SMERU Widjajanti Isdijoso mengatakan bahwa banyak sektor ekonomi yang tersentuh dan kemudian berkembang pesat dengan kehadiran ekonomi digital, mulai dari sandang, pangan, maupun papan.

“Perkembangan ekonomi digital sangat potensial dirasakan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengurangi kesenjangan infrastruktur teknologi komunikasi dan informatika (TIK) di wilayah perdesaan dan daerah tertinggal serta meningkatkan pemanfaatan internet untuk kegiatan produktif dan literasi digital,” ujar Widjajanti di Jakarta, Kamis (15/8).

Menurut Widjajanti, digitalisasi yang berkualitas bagi masyarakat berarti tersedianya akses dan manfaat yang tersebar secara merata. Hingga sekarang akses digital di Indonesia berada pada kelompok berpendidikan SMP ke atas (85%), jenjang usia di bawah 40 tahun (80%), serta yang tinggal di wilayah perkotaan (70%). Kemudian, 80% dari 100 juta pengguna internet menggunakannya lebih banyak untuk mengakses media sosial dan hanya sekitar 18% yang memanfaatkan internet untuk jual beli atau transaksi keuangan.

“Karena itu, hadirnya berbagai startup digital di Indonesia tentunya diharapkan dapat meningkatkan dan mendorong pemanfaatan internet untuk pertumbuhan ekonomi digital yang berkualitas,” jelasnya.

Salah satu contoh pemain ekonomi digital yang dapat berkontribusi meningkatkan pemerataan kesejahteraan masyarakat adalah Gojek. Aplikasi on-demand services ini dianggap memiliki model bisnis yang inklusif.

VP Public Affairs Gojek Astrid Kusumawardhani menjelaskan, inovasi dan ekosistem Gojek dirancang dari awal supaya banyak masyarakat bisa memanfaatkan teknologi untuk naik kelas.

“Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang ekonomi digital, kami percaya pemanfaatan teknologi merupakan cara paling cepat dan tepat untuk membantu masyarakat lebih sejahtera. Di ekosistem Gojek, sudah ada tiga super-app untuk membantu konsumen, merchant, dan mitra driver,” jelas Astrid.

Saat ini, pada ekosistem Gojek sudah tergabung lebih dari dua juta mitra dari berbagai latar belakang. “Teknologi Gojek membuka akses ke pendapatan tambahan dan hidup layak bagi masyarakat Indonesia yang sebelumnya sulit mengakses dunia profesional, misalnya kelompok rentan. Sekitar 80% dari mitra driver Gojek merupakan tamatan SMA ke bawah, lalu 70% dari mitra GoLife adalah perempuan yang merupakan tulang punggung keluarga, dan 1 dari 20 mitra GoMassage dan GoAuto adalah penyandang disabilitas. Dengan teknologi, Gojek membantu menyetarakan kesempatan ke berbagai lapisan masyarakat agar mereka juga dapat merasakan manfaat dari ekonomi digital,” tambah Astrid.

Komitmen Gojek untuk mendorong ekonomi digital yang inklusif telah terbukti melalui kontribusinya selama ini. Dalam penelitian Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Indonesia (LD FEB UI) pada 2019, Gojek telah berkontribusi berkisar Rp 44,2-55 triliun terhadap perekonomian nasional.

Selain memberikan dampak secara ekonomi, LD FEB UI juga mengungkapkan bahwa kontribusi yang disumbangkan Gojek sejalan dengan kepuasan dan kebahagiaan para mitranya. Berdasarkan kepuasan hidup mitra yang menggunakan instrumen The Satisfaction with Life Scale (SWL) dari Pavot dan Diener (2013), Skor rata-rata kebahagiaan mitra Gojek adalah 24,3 dari skala maksimal 35. Artinya, secara umum mitra Go-Jek tergolong cukup bahagia. Tidak hanya itu, penelitian juga menemukan mitra Gojek mengakui adanya manfaat di luar keuntungan ekonomi yang mereka peroleh dari bermitra dengan Gojek.

“Pijakan Gojek sebagai perusahaan asal Indonesia adalah bagaimana mengurangi kerepotan atau tantangan sehari-hari yang dihadapi oleh masyarakat dan mitra-mitra kami dengan cara pintar. Oleh karenanya, kami memanfaatkan teknologi, data dan pemahaman kami mengenai pasar tempat kami beroperasi untuk menghadirkan inovasi dan kesempatan bagi semua pihak di dalam ekosistem Gojek,” katanya.

Sementara itu, di kesempatan yang sama Direktur Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Leonardo Teguh Sambodo mengatakan bahwa praktik bisnis yang dilakukan Gojek telah sesuai dengan arah kebijakan dan strategi mengenai ekonomi digital.

“Arah kebijakan dan strategi pembangunan ekonomi digital dalam rancangan awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yakni mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing,” kata Teguh.

SDM menjadi modal utama untuk menuju pembangunan ekonomi digital yang inklusif dan merata di seluruh wilayah. “Kehadiran Gojek dan startup-startup lainnya menjadi faktor penting tumbuhnya ekonomi digital, namun perlu diimbangi dengan pendidikan serta pelatihan supaya SDM di industri ekonomi digital memiliki daya saing yang tinggi,” kata dia.

Comments
Loading...
More in Ekonomi, Transportasi
APCNG Minta Kendaraan Berbasis Gas Dibebaskan Aturan Ganjil Genap

Jakarta – Asosiasi Perusahaan Compressed Natural Gas Indonesia (APCNG) meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan perlakuan yang sama terkait kendaraan berbasis gas...

BTN Gandeng KPK Cegah Korupsi

Close